Minggu, 29 Oktober 2017

ASAS PENTING DALAM HUKUM

1. Actio in Libera Causa.
Membuat dirinya mabuk untuk melakukan perbuatan pidana tidak menghapus pertanggungjawaban.

2. Actori in Cumbit Probatio.
Siapa yang mendalilkan hak, maka harus membuktikan.Termanifestasi dalam 1865 KUH Perdata.

3. Actur Sequitur Forum Rei.
Asas ini termanifestasi dalam Pasal 118 (1) HIR; pada asasnya Gugatan diajukan pada domisili hukum Tergugat.

4. Actus Reus Mens Rea.
Tiada pidana tanpa kesalahan. Asas ini berlaku dalam sistem hukum Anglo Saxon.

5. Cogitationis Poenam Nemo Patitut.
Tidaklah dapat dipidana terhadap apa yang dipirkannya.

6. Die normative des frachtisen.
Kebiasaan dapat menjadi suatu norma hukum. (Sudilah kiranya untuk melihat validitas katanya, saya agak tidak yakin dengan spelling-nya).

7. Erga Omnes.
Suatu putusan dalalam hukum administrasi (Putusan TUN) pada asasnya hanya mengikat kepada pihak ketiga.

8. Freis Ermessen.
Asas kebebasan bertindak dalam Hukum Administrasi.
9. Forum rei sitae.
Asas ini termanifestasi dalam Pasal 118 (2) HIR; Pada asasnya Gugatan daapt pula diajukan pada domisili hukum suatu benda tetap.

10. Geen Straf Zonder Schuld.
Tiada pidana tanpa kesalahan. Asas ini berlaku dalam sistem hukum Eropa Kontinental.

11. Het Recht Hinkt Achter de Feiten Aan.
Hukum itu selalu tertinggal dengan peristiwanya atau sesuatu hal yang akan diatur.

12. Idoneus in propria causa.
Tidaklah diperbolehkan mengadili terhadap sesuatu yang kepentingan kita berada didalamnya. Asas ini melahirkan EKUSASI dalam peradilan, asas ini termanifestasi dalam Undang Undang No. 4 tahun 2004 (jika tidak salah dalam Pasal 29), termanifestasi pula dalam KUHAP.

13. Iederen Wordt Geacht de Wet te Kenen.
Suatu fiksi hukum yang artinya setiap orang dianggap mengetahui setiap undang-undang yang diundangkan. Asas ini tidak terdapat secara langsung dalam peraturan konkret, namun asas ini merupakan ratio de etre dari suatu perintah agar setiap undang-undang diundangkan di Lembaran Negara agar setiap orang dapat mengetahuinya. Sudilah unutk memeriksa setiap kalimat penutup suatu undang-undang.


14. Ignorantia Legis Excusat Neminem.
Ketidaktahuan akan adanya suatu undang-undang tidak dapat dijadikan sebagai alasan pemaaf. Asas ini juga tidak terdapat dalam peraturan konkret, namun penafsiran dalam penerapan tidak hanay terbatas pada undang-undang saja, melainkan lebih luas meliputi Peraturan Pemerintah dan Perda.

15. Lex Posterior Derogat Legi Priori.
Undang-undang yang baru mengalahkan undang-undang yang lama dalam hal muatan materi yang diatur adalah sama.

16. Lex Specialis Derogat Legi Generalis.
Undang-undang yang bersifat khusus mengalahkan undang-undang yang bersifat umum dalam hal muatan materi yang diatur adalah sama.

17. Lex Superior Derogat Legi Inferiori.
Peraturan yang lebih tinggi mengalahkan peraturan yang lebih rendah.

18. Nullum delictum nulla poena sine praevia legge poenali.
Asas legalitas. Termanifestasi dan artinya terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP.

19. Pacta Sun Servanda.
Perjanjian mengikat dan sebagai hukum bagi para pihak yang membuatnya.

20. Par in parem in hebet imperium.
Seorang kepala negara, hanya dapat diadili menggunakan sistm hukum dan peradilan negaranya sendiri.

21. Res Judicata Pro Veritate Habetur.
Putusan Pengadilan dianggap benar selama belum dibatalkan oleh Pengadilan yang lebih tinggi.

22. Rechtsicherheit, Gerechtigkeit, Zweckmasikeit. (bukan asas)
Kepastian hukum, keadilan, dan kemanfataan.

23. Ubi Societas Ibi Ius.
Ada masyarakat, ada hukum.

24. Unus Testis Nullus Testis.
Seorang saksi bukanlah saksi. Asas ini termanifestasi dalam KUHAP.

NOOR AUFA,SH,CLA
Advocate - Legal Consultant - Mediator - Legal Auditor
+6282233868677
www.konsultasihukumriau.blogspot.co.id
www.advokat-auditorhukum.blogspot.co.id
www.pengacaraanda.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PRA PERADILAN DALAM HUKUM INDONESIA

Secara yuridis, praperadilan ditentukan dalam Pasal 1 butir 10 KUHAP yang menyatakan: “Praperadilan adalah wewenang pengadilan untuk me...